Rs sumber waras beberkan semuanya

Jakarta - Sebidang tanah seluas 36.410 m2 dijual Yayasan Kesehatan Sumber Waras (YKSW) kepada Pemprov DKI pada 18 Desember 2014 untuk menambah biaya operasional rumah sakit. Namun, transaksi tersebut dianggap merugikan negara Rp 191 miliar oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Bagaimana ceritanya?

Direktur Utama RS Sumber Waras Abraham Tedjanegara lantas membeberkan kronologi transaksi jual beli tersebut. Hal tersebut disampaikan Abraham saat menggelar jumpa pers di Ruang Pertemuan RS Sumber Waras, Jl Kyai Tapa, Jakarta Barat, Sabtu (16/4/2016).

"Bahwa pada tanggal 14 November 2013 dilakukan perjanjian pengikatan jual beli antara YKSW dan PT Ciputra Karya Utama (CKU) atas objek tanah SHM Nomor 2878," ujar Abraham.

"Perjanjian juga mengatur persyaratan apabila CKU ingin mengubah peruntukkan lahan dari semula Suka Sarana Kesehatan (SSK) menjadi wisma harus mengurus dan mendapatkan izin paling lambat tanggal 3 Maret 2014. Apabila sampai jangka waktu tersebut CKU belum mendapat izin maka perjanjian batal demi hukum," jelasnya.

Abraham menyatakan pihak RS kaget saat tiba-tiba beredar di media yang memberitakan bahwa RS Sumber Waras telah dibeli Pemprov dengan harga Rp 1,7 triliun. Pihaknya kemudian meminta Pemprov dalam hal ini Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selaku Plt Gubernur DKI saat itu untuk mengklarfikasi hal tersebut karena cukup mengganggu kegiatan operasional rumah sakit.

Kemudian terjadi pertemuan antara pihak RS dengan Ahok pada 6 Juni 2014. Dalam pertemuan tersebut Ahok menyatakan tak mungkin mengubah peruntukkan Sumber Waras menjadi rumah tinggal karena DKI masih sangat memerlukan layanan kesehatan. Ahok lantas menawarkan agar tanah tersebut dijual ke Pemprov DKI.

"Ahok menawarkan kepada kami agar tanah tersebut dijual saja kepada Pemda DKI dengan harga sesuai NJOP dan di atas tanah tersebut akan didirikan rumah sakit kanker untuk melayani masyarakat," tutur Abraham.

Setelah menggelar rapat internal, pihak YKSW setuju untuk menjual tanah tersebut ke Pemprov DKI. Kesepakatan terjadi karena pihak yayasan menganggap memiliki satu visi dengan Pemprov DKI.

"Pada Februari 2015 setelah penjualan sebagian tanah milik YKSW tersebut, pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama-sama tim dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mendatangi RS Sumber Waras," jelasnya.

Tanah seluas 36.410 m2 yang ada di sisi barat rumah sakit dijual dengan harga per meter perseginya Rp 20,755 juta, mengacu pada NJOP 2014. Alamat rumah sakit berada di Jalan Kyai Maja dan bukan di Jalan Tomang Utara seperti yang disebut BPK.

Transaksi dianggap merugikan negara karena, menurut BPK, harga yang seharusnya dibayar Pemprov DKI per meter persegi mengacu pada NJOP 2013 sebesar Rp 12,195 juta.

Jakarta banjir lagi



Hujan lebat yang kembali mengguyur pada Minggu (28/2/2016) dinihari, membuat sejumlah wilayah di Jakarta tergenang banjir.

Data yang dilansir petugas Traffic Management Centre (TMC) Polda Metro Jaya dalam akun Twitternya menyebut, banjir ketinggian banjir bervariasi mulai 30 hingga 150 centimeter.

Berikut data sementara daerah yang terendam banjir:

#Banjir di RT 11 RW 03 pondoklabu ± 90cm

#Banjir 100-120 cm di RT. 05 Pondok Labu #Jakarta Selatan.

#Banjir 100-150 cm di RT. 07/07 Pondok Labu #Jakarta Selatan.

#Banjir di Jembatan Baru RW. 01 Cengkareng #Jakarta Barat.

#Banjir di Rawa Buaya (blkg Samsat Jl. Daan Mogot) #Jakarta Barat.

#Banjir 10-30 cm di Kavling Polri Jelambar #Jakarta Barat.

#Banjir 30 cm di dpn Gereja GKI Duri Kepa #Jakarta Barat.

#Banjir 20-30 cm di dpn Perumahan Meruya Indah #Jakarta Barat.

#Banjir di Perumahan Periuk Damai & Mutiara Pluit.

#Banjir 90-100 cm di Jl. Patra Raya Duri Kepa #Jakarta Barat.

Kasus Kronologis Lengkap Pencabulan Saipul Jamil


Jakarta Setelah terungkap kasus pelcehan Saipul Jamil terhadap DS beberapa waktu lalu, muncul nama baru yang juga menjadi salah satu korban tindak peyimpangan seksual oleh pria yang biasa dipanggil Ipul ini. AW menjadi korban yang memerberanikan diri untuk melapor ke Polda Metro Jaya atas tindakan cabul yang dilakukan Saipul.

Awal pertemuan AW dan Saipul Jamil pun tidak jauh beda dengan korban sebelumnya DS. yaitu saat ia dan temannya datang menyaksikan ajang pencarian bakat yang dijurikan oleh Saipul Jamil.

"Awalnya kejadian itu pada saat ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh stasiun televisi swasta. Klien kami diajak rekannya bernama Tommy untuk menonton di ajang itu, kemudian di saat break klien kami diberi isyarat oleh saudara SJ dengan suit-suit (memanggil). Tommy yang temannya AW mengatakakan kepada klien kami kalau dia dipanggil SJ. Setelah break kedua klien menghampiri meja juri. Posisi dia duduk dibelakang meja juri. SJ meminta pin BB dan nomer telpon klien kami," jelas Raidin Anom saat ditemui di kantor DPD Kongres Advokat Indonesia 2008, Tangerang, Jumat (26/2/2016).

Awal perkenalan itu membawa AW semakin kenal dengan Saipul Jamil, apalagi keesokan harinya mereka langsung berkomunikasi lewat nomer telpon yang telah diminta Saipul Jamil. Dengan modus memberikan pekerjaan, AW pun mau bertemu dan membantu Saipul untuk ikut ke kediamannya di kawasan Kelapa Gading,"

"Keesokannya BBM, klien saya menanyakan pekerjaan. Lalu saudara SJ mengatakan banyak pekerjaan asal datang ke rumah saya. Hari kedua mereka bertemu lagi. Alhasil mereka bersama-sama ke rumah SJ yang berlokasi di Kelapa Gading, satu mobil berlima saudara SJ dan klien saya, asisten SJ 2 orang dan sopir. Sampai rumah saudara SJ meminta klien saya mandi, selesai mandi diminta pijat. Dia malu-malu karena ketemu artis dan figur apalagi ditawarkan pekerjaan. Selesai pijat klien saya tidur di luar kamar SJ. Kurang lebih satu jam tidur terlelap klien kami kaget ada gerakan, terbangun dia melihat SJ melakukan 'gerilya' kecil melakukan upaya pencabulan. Kesimpulan malam itu saudara SJ berhasil melakukan pencabulan dengan sedikit pemaksaan," lanjut Anom.

Selang dua tahun berlalu, kini AW memberanikan diri untuk melaporkan tindak pencabulan dengan kekerasan pada pasal 289 KUHP yang dilakukan oleh Saipul Jamil. Ia pun bersama kuasa hukumnya mendatangi Polda Metro Jaya pada hari Rabu 24 Februari 2016 lalu.

Distributed by Kompas Harian
artist photos